Monday, September 22, 2008

what's wrong with psychiatry?

saya ini mahasiswi kedokteran umum, yang pastinya sering menerima pertaanyaan semacam ini :

"nanti kalo udah lulus dokter mau ngambil spesialis apa?"

dan sampai saat ini jawaban saya masih berubah-ubah (karena sampai detik ini pun saya masih belum tahu mau ambil spesialisasi apa nantinya), tapi coba tebak, jawaban apa yang paling sering keluar dari mulut saya?

psikiatri.

iya psikiatri, jadi psikiater, dokter spesialis kesehatan jiwa.

nah.

what's on your mind now?

apa sama juga seperti kebanyakan orang yang mendengar jawaban saya itu?

"hah? psikiatri?"
"kok psikiater sih?"
"trus jadi psikiater mau ngapain?"
dll

saya bingung, sebenarnya apa ya yang salah dengan psikiatri?
jelek kah?
kurang bagus kah?
atau apa ya?

apa mungkin mereka mengharapkan saya menjawab
"penyakit dalam" atau "THT" atau "kandungan"?

saya jadi ingat waktu saya masih kuliah pre-klinik di kampus... salah satu dosen saya memberikan closing di power point-nya, sebuah slide yang bertuliskan quote. Saya lupa kata-kata persisnya apa, tapi kurang lebih begini :


"A surgeon, they know nothing but do everything. An internist, they know everything but do nothing. A psychiatrist, they know nothing and do nothing"


jadi maksudnya kalau dokter bedah itu nggak tau apa-apa tapi mengerjakan segalanya (mungkin yang membedah-bedah gitu kali ya), kalau dokter penyakit dalam tau segalanya (maksudnya bisa menjelaskan penyakit ke pasiennya, mulai dari penyebab, perjalanan penyakit, sampai se-detail2nya) tapi nggak mengerjakan apa-apa, sedangkan dokter spesialis jiwa atau psikiater tidak tahu apa-apa dan tidak mengerjakan apa-apa.

menurut saya nggak seperti itu...

menurut saya (mungkin) orang yang sakit jiwa lebih menderita ketimbang orang yang sakit secara fisik. Apalagi mereka yang mengalami gangguan jiwa jenis neurotik (masih sadar akan dirinya yang mengalami hal yang tidak lazim), bagaimana mereka merasakan kecemasan dan kegelisahan maha dahsyat yang tidak bisa dimengerti dengan akal sehat karena mekanisme defensi mereka kalah ketika bertarung dengan pikiran-pikiran yang entah datang darimana. Dan mungkin pada saat yang bersamaan, orang-orang di sekitar mereka menganggap diri mereka aneh, dan mereka sadar betul akan hal itu.

Belum lagi keluarganya, teman-temannya. Bagaimana rasanya, kalau orang yang biasanya menjadi teman kita tiba-tiba menjadi psikotik (yang ini sudah tidak bisa membedakan yang mana kenyataan, yang mana fantasi). Apa rasanya, kalau seseorang yang biasanya ada di keseharian kita, tiba-tiba punya dunia sendiri. Atau bahkan menceracau tidak jelas. Tidak ada lagi kita dalam dunianya, sedangkan dia masih ada di depan mata kita.

They do need help.

Mungkin hal itu yang tidak pernah terpikirkan oleh dosen saya yang terhormat, ketika beliau menampilkan quote tersebut dengan tulisan besar-besar di depan seratus lebih mahasiswa.

Jadi apa yang salah dengan psikiater?

Meskipun terlihat tidak se-mentereng ahli kandungan, ahli bedah, ahli penyakit dalam, ahli saraf, atau yang lain-lain (ini berdasarkan penglihatan saya pada orang-orang awam ya), tapi mungkin sedikit sekali orang yang sadar kalau begitu banyak orang yang membutuhkan psikiater. Bukan cuma pasiennya, tapi juga keluarganya. Dan saya pikir mereka tidak akan pernah sadar, sampai suatu saat mereka sendiri yang membutuhkan seorang psikiater.

Sampai saat ini cuma sedikit orang yang tidak berkomentar dengan nada tidak mendukung kalau mendengar minat saya terhadap bidang psikiatri. Salah satunya komentar dokter pembimbing saya hari ini...

Drg.Betty (dokter gigi pembimbing di RS) : kalian ini setelah lulus dokter nanti mau ambil spesialis apa?

Saya : psikiater, dok

Teman saya : Obgyn (kebidanan dan kandungan)

Teman saya yang satunya lagi : penyakit dalam

Drg.Betty : (terdiam)

dalam hati saya berpikir "apa ya kira-kira komentarnya... apa sama kayak komentar orang-orang biasanya, kok psikiateeeerrr"

Drg.Betty : hm... kayaknya market-nya banyakan Nurul, deh... (FYI : 'Nurul' itu nama depan saya)

MySpace

saya terharu...

kali ini komentarnya bernada mendukung, dan yang pasti nggak terkesan me-marginalkan satu bidang spesialisasi kedokteran dari bidang yang lainnya...

you may say that the psychiatrists don't know anything and don't do anything, but do you know? They could make someone feels like at home...

5 comments:

Loverock_MD said...

Ooooo... terharu ini tooohhhh...


:-D


koko ga kayak gitu kan cibum? (nunduk...)


Kan emang psikiatri itu penyakit masa depan, karena akan banyak orang stres yang tidak bisa menanggung beban hidup yang emang semakin berat..

Dokter bedah itu emang narcis koq ci.. Ko jadi urolog aja ah..

ifa said...

hm...
masih inget ya siapa dosen yang terhormat itu?
wakakaka =D

Enno said...

kalo aku jd dokter pasti ambil psikiatri juga... hari geneh banyak yg setres tau. Kudu ditolongin tuuuh hahaha ^^

Melissa said...

karena gw percaya ilmu kedokteran itu 'holistik', gw ga ngerasa ada yang salah ama psikiatri.

btw kita bareng nih di AL.. bisa ketemuan ga ya.. kangen T_T

aYme said...

aku juga udah strezz neh fa,,, (gila dunn) obatin aku yak wkwkwkw :D.

ga ad yg slh ko jrsn itu. Gpp fa ttp optimis aj sm pilihan km,,,

cayo fa,,, :D